Tag Archives: Surat

Surat Rani

Surat RAni

Menyusuri lorong sekolah ini sendirian sepagi ini cukup untuk membuat moodku turun drastis. Tak ada orang yang datang sepagi ini. Ini semua karena Mas Gilang sialan. Ngapain dia harus berangkat sepagi ini? Kenapa dia harus mengorbankan adiknya yang ganteng ini.

Setengah marah aku berjalan menuju kelas. Sesekali aku menguap lebar-lebar. Ah, memang terlalu dini untuk berangkat ke sekolah.

“Galang.”

Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Tak mungkin sedini ini ada orang yang datang. Yah, kecuali aku. Aku mulai berkhayal rupanya.

“Galang.”

Oke, aku mulai takut mendengar suara-suara ini. Aku mempercepat langkah kakiku. Tiba-tiba ada sebuah tangan memukul kepala aku.

“Aduh,” rintihku sambil memegang kepalaku.

“Heh, lo udah gue panggil dari tadi gak nengok-nengok,” kata seseorang yang sekarang ada disampingku.

Dia adalah Rani. Teman sekelas, tetangga sekaligus sahabat kecilku. Rani adalah gadis terkejam yang pernah kutemui. Dari parasnya dia cukup cantik. Tapi, dia sudah punya pacar, Yuda.

“Jangan pukul kepala orang seenaknya dong. Aset berharga nih,” makiku dengan mata yang kucoba untuk perbesar.

“Suka-suka gue dong,” katanya sambil menjulurkan lidah.

Rani melanjutkan langkahnya menuju kelas. Aku mengikuti.

“Lang, gue pengen ngomong sama lo,” katanya setelah memutar badan menghadapku.

‘Gue pengen ngomong sama lo’ bukanlah kalimat yang kusuka. Aku menatap Rani. Ia terlihat gelisah. Aku menjadi bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakannya padaku.

“Mau ngomong apa?”

Rani membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah surat. Ia menyerahkan surat itu padaku.

“Apa ini?” Tanyaku sambil menerima surat yang diberikan Rani.

“Bacalah!”

Akupun membaca surat yang diberikan Rani padaku.

“Apa yang salah?”

“Lang, g-gue,” Rani tergagap. “Gue gak tahu apa yang gue lakuin. Entah kenapa gue ngrasa seneng baca surat itu. Entah kenapa gue nunggu surat-surat lain dari orang yang nulis surat ini. Entah kenapa Yuda jadi bukan satu-satunya. G-gue bingung, Lang.”

Aku menatap Rani. Aku tak dapat melihat wajahnya karena sekarang ia menunduk. Aku tak tahu harus menanggapi bagaimana. Ada sisi di mana aku senang mendengar pernyataan Rani. Tapi ada juga sisi di mana aku gelisah.

“Terus gue harus gimana, Ran?”

“Kasih saran kek ke gue. Gimana sih lo, Lang?” Rani memukul pundakku. “Lo tahu gak siapa yang ngirimin surat ini?”

Aku bertambah gelisah. Apa aku harus memberitahukan Rani siapa yang mengirim surat itu? Apa aku harus jujur padanya?

Aku menyerahkan surat itu pada Rani. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk jujur padanya.

“S-surat ini…” Aku tergagap.

“Ran,” panggil suara dibelakangku.

Gadis berkacamata berdiri didepanku dengan bukunya yang tebal. “Ayo masuk. Ngapain disini?”

“Gue lagi ngomong penting sama Galang,” kata Rani dingin.

Gadis berkacamata itu kemudian pergi.

“Siapa, Lang? Lo tahu kan?” Tanya Rani dengan penuh harap.

Aku bimbang. “G-gue, gue gak tahu,” kataku akhirnya.

“Sialan. Kirain lo tahu. Kalau lo tahu, beri tahu gue ya,” kata Rani sambil berlalu.

Aku menyesali sikap pengecutku. Kenapa tak kuberi tahu saja siapa penulis surat itu? Bagaimana bisa aku berbohong? Seharusnya tidak susah mengatakan bahwa penulis surat itu adalah aku. Aku yang selalu mengagumi Rani. Aku yang selalu menginginkan senyum hadir di wajahnya. Aku yang setiap hari melihat kemesraan dia dengan Yuda. Aku yang selalu tersakiti oleh perasaan ini. Itu aku. Aku, Ran.

“Ah, brengsek,” umpatku sambil melanjutkan langkahku.