Tag Archives: Merindu

Ketika Hati Merindu

Aku tahu hubungan  kita sudah lama berlalu. Hubungan pertemanan kita.

Dulu kita saling menyapa, menegur, menasihati, tertawa bahkan menangis. Semua kita lakukan bersama. Entah itu pekerjaan yang sulit maupun yang remeh-temeh sekalipun. Aku merindukan semua hal itu.

Dengan mulutmu yang unik itu, kadang kau mengungkapkan hal-hal yang lucu. Kau menceritakan semua hal yang belum aku tahu. Kau memberiku sebuah dunia baru dari segi perspektifmu. Kau memberikan semangat yang membuatku dari yang duduk bermalas-malasan untuk berdiri dan berani menyongsong masa depan. Menyongsong kehidupan di bumi yang sangat rumit.

Badanmu yang tinggi sudah cukup membuatku aman. Kau melindungiku dari mereka yang mencoba menyakitiku. Kau membesarkan hatiku ketika aku tak mampu mencapai apa yang aku inginkan.

Kau dipanggil tomboy oleh mereka. Aku mengerti mengapa mereka memanggilmu demikian. Sudah jelas tubuhmu tinggi bak tiang yang berjalan. Kaos oblong dan jinsmu yang sudah bolong-bolong itu selalu saja menemanimu ke mana kamu pergi. Aku sudah bosan sebenarnya melihatmu demikian. Apa tak pernah terlintas dalam pikiranmu untuk memakai gaun yang sangat indah? Yang paling menguatkan mereka menyebutmu tomboy adalah rambutmu yang super pendek itu. Bagaimana bisa mereka mengenalimu sebagai seorang wanita apabila mahkotamu yang paling indah itu kau potong sangat pendek?

Semua hal-hal kecil tentangmu membuatku dekat denganmu. Menjalin sebuah hubungan yang dinamakan pertemanan. Bahkan aku menganggapnya sebagai persahabatan. Mungkin bagimu tidak.

—-

Hari-hari yang bahagia itu berlalu, teman.

Seperti sebuah dongeng, hal yang indah di depan tidak akan bertahan lama. Dan begitu pula dongeng tentang kita.

Aku pernah bermimpi menjadi seorang pendidik yang nantinya akan mengantarkan mereka (anak didikku) menggapai cita-citanya sendiri. Tapi, mimpi itu tertimbun dengan angan-angan ku untuk menjadi dokter, akuntan, penulis novel dan juga pembalap. Mimpi itu kembali muncul ketika aku berteman denganmu. Sampailah aku pada jalan di mimpi itu.

Aku tahu kau juga memiliki mimpi. Namun, mimpi itu kini menjadi jurang pemisah antara kita. Menjauhkan kita dari arti pertemanan. Dan pelan-pelan kau menjauhiku.

Berita tentang kesuksesanmu terdengar juga di telingaku. Aku bahagia mendengarnya. Sungguh. Mungkin juga aku turut andil dalam mendoakanmu menggapai mimpi mu itu. ((Mungkin)).

Dan kini aku menulis tentangmu. Tentang hatiku yang merindu kehadiranmu, teman. Sungguh.

Hey you. I want to talk to you. I want to talk everything that I’ve done, everything that make me smile or sad again. I want to see your face, your eyes or your mouth. But now, I don’t know anything about you. And it looks impossible when I realize my wish. I miss you.

Sincerely,

RH