Tag Archives: Katak

Jelek yang tak Abadi

Hari ini aku harus merangkak lagi. Berjalan medaki menuju pucuk pohon. Mereka bilang bahwa di pucuk pohon daunnya sangat enak. Aku membayangkan betapa lezatnya daun-daun di sana. Betapa kenyangnya aku nanti. Pada pohon tingkat ketiga aku melihat katak yang sedang makan di pinggir sungai. “Hai, katak. Sedang makan apa kau?” Tanyaku dengan suara lantang. Ia hanya tersenyum dan memandangiku. Tak lama setelahnya, ia menanyakan padaku apa yang sedang kulakukan. Aku menjawab bahwa aku ingin mendaki sampai di pucuk. Katak tertawa. Ia berkata bahwa itu adalah hal yang mustahil. Ulat jelek sepertiku tak akan mampu mencapainya. Rasa percaya diriku berkurang. Benar juga kata katak, aku tak akan mampu mencapai puncak itu. Aku pun berhenti dan mengistirahatkan diriku. Aku lelah. Aku membungkus tubuhku dengan sulur halus dan berdiam diri di sana. Aku malas untuk keluar lagi.

Sudah berapa lama aku tidur disini? Sepertinya aku sudah lama tak melihat sinar matahari. Mungkin ini waktuku untuk keluar, untuk kembali mendaki menuju puncak yang kudamba. Ya, ini waktunya. Aku merobek sulur-sulur yang menyelubungiku. Melangkahkan kakiku keluar dari sulur-sulur ini. Sinar matahari menerpa wajahku. Begitu hangat. Begitu menyilaukan. Dan aku merasakan ada hal yang berbeda dari diriku. Pandanganku terhenti pada katak yang sedang menjulur-julurkan lidahnya. “Hai, katak!” Sapaku. Ia menatapku dengan wajah yang keheranan. Ada apa denganku? Apa aku tampak buruk sekali? “Kau… K-kau cantik sekali, Ulat.” Aku menatap pantulan diriku di air. Aku memiliki sayap. Dan aku tampak sangat cantik. Sekarang, saatnya untuk terbang menuju puncak.

Advertisements