Tag Archives: Cinta

#2 Janjiku pada Garda

Sofa ini terasa hangat. Hangat seperti dekap peluknya. Kami hanya duduk berdiam diselingi acara televisi yang membosankan dan tak memedulikan apa yang terjadi di luar sana. Entah matahari sedang pamer atau awan yang sedang menangis, kami tak peduli.

“Kenapa aku baru sadar kalau ada yang mencintaiku lebih besar daripada dia?” Tanyaku memecah kesunyian.

Dia masih diam membisu. Tak menghiraukan apa yang kutanyakan. Dia melihat televisi seakan acara-acara di televisi itu lebih menarik daripada pertanyaanku. Aku ingat kejadian terakhir kami. Kejadian dengan hujan. Kejadian di mana dia memelukku. Seperti kejadian hari ini, kejadian-kejadian itu terangkai manis dalam ingatanku. Walaupun nanti kejadian itu akan menjadi kenangan semata tapi aku tak peduli. Aku baru menyadari betapa dia mencintaiku. Dan aku baru menyadari bahwa aku jatuh dalam cintanya.

“Entahlah. Hanya kamu yang bisa menjawab. Tapi, aku bersyukur kamu sadar,” jawabmu tanpa mengalihkan perhatian pada acara membosankan di televisi. “Tapi, aku berharap kamu tidak pergi dari ku, Erina.”

Aku tidak akan mau pergi darimu, Garda. Aku selalu ingin di dekatmu. Aku ingin mencium aroma tubuhmu. Aku ingin berada dekat denganmu walaupun tanpa ada komitmen di antara kita sekalipun. Aku tidak akan pergi. Mungkin nanti jika aku tak lagi mencintamu, aku tetap tidak akan pergi. Apa aku egois, Garda?

Advertisements