Catatan Calon Guru

Jika kau berjalan-jalan dan terhenti di rumahku, janganlah mampir bila kau bukan seorang guru. Karena kau tahu, semua anggota keluargaku adalah seorang guru. Aku tak tahu apa ini sebuah kebetulan atau tidak. Namun dari semua anggota keluargaku, hanya aku yang masih harus menentukan mau jadi apa. Kakak pertama dan keduaku adalah seorang guru dan keduanya dipertemukan dengan seorang guru pula. Dan tentunya kedua orang tuaku adalah seorang guru. Jadi kusarankan bila ingin mampir ke rumahku, kau harus menjadi seorang guru.

Good teachers know how to bring out the best in students.” Begitu yang dikatakan Charles Kuralt. Lalu aku berpikir bisa apa aku pada muridku nanti ketika aku telah memutuskan untuk menjadi seorang guru. Apa yang dapat kuberikan pada mereka? Aku tentu tak mau memberi racun pada mereka. Begitulah semua pikiran-pikiran itu terus saja berputar-putar dalam otakku. Ketika aku berpikir, aku menuliskannya. Jadilah ini sebuah catatan seorang calon guru yang ingin memberikan harapan pada murid-muridnya kelak.

Advertisements

Psikopat

Imajimu tak akan pernah terlewatkan oleh mataku. Bayangmu selalu bisa ditangkap oleh kedua mataku. Begitu pula oleh benda kecil yang terus bersamaku ini. Ia selalu ada di dekatku, mengabadikan setiap kegiatan yang kau lakukan. Membekukan memori yang akan terlewatkan. “Kenapa kau terus saja mengikutiku dengan kamera jelekmu itu?” Tanyamu ketika aku tertangkap basah sedang mengikutimu. Kamera jelek katamu? Aku dan benda kecil ini telah bersama selama sepuluh tahun dan mengabadikan setiap detik yang kadang dilupakan orang, termasuk dirimu. Dan kamu bilang jelek?

Aku tak menerimanya. Kuambil batu terbesar yang berada dalam jangkauanku dan kulempar padamu. Batu itu mengenai tangan kananmu dan membuat tangan itu bersimbah darah. Aku terkejut akan perbuatanku sendiri. Kupegang kamera yang menggantung di leherku. Mengarahkan kamera itu padamu dan aku memotretmu dengan tangan yang berlumuran darah. “K-kau…” Katamu dengan wajah yang terkejut sekaligus marah. Aku hanya bisa berdiri di sana dengan kamera yang terus saja kubidikan padamu.

Saudara

Wanita itu memiliki rambut yang panjang dan kulit yang putih. Tahi lalat menggantung di bawah hidungnya. Senyuman selalu ia tebarkan pada setiap orang yang lewat. Namun kenapa ia tak memberikan senyuman itu padaku? Orang yang selama ini terus saja mengikutinya. Karena aku tak tahu harus ke mana. Jadi aku selalu mengikuti seseorang yang kupanggil dengan kakak.

Setiap hari aku selalu mengikutinya. Walaupun kadang dia marah dan membentakku, aku tak bisa untuk tidak bersamanya. Bila itu terjadi sudah dapat dipastikan bahwa aku akan kebingungan karena aku tak bisa berjalan sendiri. Susah dan senang aku mencoba untuk membaginya dengannya. Bukankah itu yang namanya saudara, selalu berbagi suka dan duka?

Pertanyaan Masa Kecil

Masa kecil adalah masa yang paling indah karena saat itu kita fokus untuk mencari kebahagian. Masa kecilku hampir sama dengan semua anak yang berusia sembilan belas tahun, tidak ada teknologi dan tidak ada keresahan. Semua adalah tentang kesenangan dan kebahagiaan. Bersepeda, bermain bola, bermain layang-layang di padang rumput, dan memandang langit ketika hari telah sore. Aku selalu bermain dengan semua teman-temanku dan tertawa bahagia bersama. Dulu, kami sering berangan-angan bagaimana kami di masa depan dan akan menjadi apa kita di masa depan.

Namun, keceriaan yang ada di dalam masa lalu sudah tertinggal di sana. Keceriaan yang dirasakan kita pada masa kecil tidak mampu untuk menghadapi tantangan hidup. Masalah menghampiri kita dan menyerang keceriaan yang kita dapatkan pada masa kecil. Akhirnya, kita akan bertanya kembali kepada diri kita, kapan masa-masa kecil yang bahagia itu kembali dan bisakah itu kembali. Padahal, kita harusnya bisa memberikan jawaban akan pertanyaan kita pada masa lalu yang membahagiakan itu, bahwa kita telah berhasil menjadi apa yang kita inginkan.

Perjalanan Panjang

Aku telah berlari mengitari bumi. Memijakkan kakiku di tanah-tanah yang tak kukenal namanya. Setiap aku kembali, kau masih setia menunggu kepulanganku. Merengkuhku dengan senyummu yang menyejukkan.

Dahulu, kau selalu menjagaku dalam tidurku. Menemani dalam keterjagaanku. Kau selalu menyemangati dalam perjalananku. Selalu berpikir bahwa aku akan baik-baik saja, tanpamu. Dan aku mempercayainya. Maka kuberanikan diriku untuk melangkahkan kakiku mengawali perjalanan baru. Dan disinilah aku, setengah perjalanan hidupku, menunggumu untuk memeluk semua lelahku. Bolehkah aku meletakkan bebanku di bahumu lagi, Ibu?