Category Archives: Schreiben

Kepada Dia yang Belum Kutahu Namanya

Aku terlihat dari kedua bola matamu yang memncarkan keramahan. Kedua bola matamu yang kau balut dengan senyum menawan yang membuatku tak karuan. Mungkin tidak hanya aku tetapi juga wanita di luar sana yang melihat senyum manis nan tulus yang kau hadirkan di wajahmu.

Kadang otakku bertanya apa yang membuatmu berbeda dan menarik. Sungguh, kau tak memiliki tampang yang orang-orang di luar sana sebut dengan ganteng. Kau tidak memiliki itu. Akan tetapi, satu hal yang membuatmu berbeda dan menarik perhatianku. Senyummu. Aku menyadari perbedaan ketika kau tak menghadirkan senyum di wajahmu itu. Kau seperti lampu taman yang tidak menyala ketika malam telah datang. Kamu kosong.

Jadi, maukah kau menghadirkan senyum di wajahmu? Untuk membuatmu berbeda. Untuk membuatku tak karuan. Tersenyumlah, wahai orang yang belum kutahu namanya.

Papa

Dear Bapak,

Apa Anda ingat kapan terakhir kali kita bicara? Aku ingat. Terakhir kita bicara adalah dua bulan yang lalu. Ketika aku akan menghadapi ujian. Aku meminta doa restu padamu. Dan Anda berkata, “Ya. Semoga sukses. Tetaplah jadi menjadi anak yang baik. Bapak percaya padamu.” Setelah itu aku mencium tangan Anda dan memasuki gerbang sekolahku dengan hati yang senang. Dan sepertinya itu adalah kali terakhir aku melihat Anda tersenyum dan menyemangatiku.

Bapak,

Apa Anda ingat kapan terakhir kali kita pergi jalan bersama? Aku ingat. Terakhir kita berjalan bersama adalah satu bulan yang lalu. Anda mengajakku mengunjungi bibi di kota seberang. Ketika kecil aku sangat senang bila Anda ajak pergi. Anda selalu membelikanku makanan di tengah jalan. Tidak seperti ibu yang hanya mengajakku jalan tanpa membelikanku makanan. Tapi, aku tidak suka menunggu Anda pulang. Anda tak pernah membawa jajanan seperti ibu.

Bapak,

Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini semuanya menjadi rumit. Anda tak lagi berbicara sesering dulu. Tak pernah mengajakku pergi jalan. Anda hanya sibuk dengan pekerjaan dan dunia Anda. Lalu apa yang harus aku lakukan, Pak? Apa semua ini karena aku telah beranjak dewasa?

Salam,

RH

Ps: Aku rindu masa itu.

Dear You Again

Dear Mr. Coolness,

How are you this day? I hope you are good and I hope you always show your smile. 🙂

Mr. Coolness,

Why do I call you by that name? Do you know the reason? Kamu pasti tahu jawabannya. Kamu ingat pertama kali kita bertemu? Saat dua bola mataku bertemu denganmu? Apa kamu masih mengingatnya? Saat itu aku memandang matamu cukup lama dan aku tak bisa menyuruh kedua bola mataku untuk tidak memandangi kamu. Kamu dengan jaket tebalmu itu yang pertama kali mengalihkan pandangan. Dengan lucunya kita curi-curi pandang. Dan saat aku ingin mencuri pandang lagi, aku tak bisa menemukanmu. Di mana kamu? Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku dengan lembut. Aku tersentak. Aku memutar badanku dan menemukan kedua bola matamu. Aku sangat malu waktu itu. Lalu kamu memeperkenalkan dirimu. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku merasakan kesejukan dan ketenangan. Tapi, dalam waktu yang bersamaan aku merasakan dingin dalam sorot matamu. Jadi, tidak salah kan aku memanggilmu dengan nama itu?

Mr. Coolness,

Apa arti usia untukmu? Sejak semalam aku selalu memikirkan apa arti dari usia seseorang. Apa usia itu penting untukmu? Aku berpikir usia itu tidak memiliki arti apapun. Usia hanya membatasimu dengan batasan muda dan tua. Tapi, selebihnya? Bukankah menjadi orang tua tidak menjamin bahwa jiwanya dewasa. Dan bukankah menjadi anak kecil juga tidak menjamin kalau jiwanya masih seperti anak kecil? Aku bertemu dengan orang yang sudah tua tetapi jiwanya tidaklah dewasa. Teman-temanku sering mengatakan bahwa dewasa itu pilihan tetapi tua itu pasti. Bagaimana pendapatmu?

Mr. Coolness,

Apakah kamu tahu mengapa aku menulis tentang usia? Apa kamu ingat kalau hari ini kamu berulang tahun? Aku kira kamu tahu. Kamu mungkin sedang merayakannya dengan pacarmu yang baru. Atau teman-teman dekatmu. Aku tidak iri. Mereka berhak mendapatkannya. Tapi, apakah aku berhak merayakannya denganmu? Kukira itu tidak mungkin terjadi. Siapa aku di matamu? Aku kira aku bukanlah siapa-siapa di kedua bola matamu itu. Maka dari itu, aku hanya ingin menuliskan “Selamat Ulang Tahun” padamu. Jujur, aku tidak berani untuk menyampaikannya dalam pesan SMS. Aku takut aku merusak hubunganmu dengan pacar barumu. Maafkan aku karena aku terlalu takut untuk melakukan itu. And I know that the HAPPY BIRTHDAY greating is not enough. Sorry about that. Tapi, aku harap kamu mendapatkan ulang tahun yang menyenangkan dengan pacar barumu dan juga dengan teman-teman dekatmu. Percayalah bahwa aku disini selalu mendoakan yang terbaik untukmu. ^_^

Mr. Coolness,

Aku kira semua yang ingin aku katakan sudah aku tulis. I wish you were here.

Sincerely,

RH

Ps: I miss you in every time.

You

Dear Mr. Coolness,

Apa kabarmu hari ini? Apakah sama dengan hariku yang membosankan dan menjemukan? Apa kamu sudah mendapatkan cinta yang telah kau tunggu-tunggu? Apa hatimu masih cukup untuk mencintai orang yang diam-diam menaruh rasa itu padamu?

Mr. Coolness,

Aku sangat senang pertama kali bertemu denganmu. Aku tak akan bilang kamu berbeda dari laki-laki lain. Kamu sama dengan mereka. Sama-sama bisa tertawa, sama-sama bisa menangis, semuanya hampir sama. Aku tak tahu apa sebenarnya yang membedakanmu dengan laki-laki lain?

Mr. Coolness,

Sejak pertama kali kita bertemu apakah aku salah bila mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu? Padahal aku bukanlah orang yang percaya tentang cinta pada pandangan pertama. Tapi, ketika kamu ada di sana dan aku tak sengaja menatapmu, jantungku menjadi tak karuan. Saraf-saraf di tubuhku tak mampu beroperasi. Dan memalingkan pandangan darimu saja terasa sangat sulit.

Mr. Coolness,

Dengan adanya kamu, hidupku tak teratur. Aku tak bisa makan dengan baik. Kadang-kadang ibuku mengomeliku karena telat makan. Bahkan bapakku sampai berteriak-teriak untuk menyuruhku makan. Tidur sehatku pun menjadi tak tentu. Aku tak bisa memejamkan mata karena memikirkanmu. Makalah-makalahku menjadi terbengkalai. Setiap aku ingin menyelesaikannya, aku hanya bisa menulis namamu.

Mr. Coolness,

Aku sangat bahagia dengan hidupku yang tak teratur itu. Tiba-tiba saja aku merasa bahagia dan tak jarang aku tersenyum-senyum sendiri mengingat pertemuan kita. Apa aku salah Mr. Coolness? Mungkin aku memang salah. Karena tiba-tiba kamu datang padaku bersama gadis itu. Gadis tinggi berparas cantik. Kau mengenalkannya padaku sebagai pacarmu. Seketika penyakit itu menyerang. Aku tak mampu mengendalikan semua organ tubuhku. Jantung ku tak lagi berpacu. Aku sakit hati.

Mr. Coolness,

Setelah memperkenalkan pacarmu padaku, aku mulai menjauhimu. Mencoba melupakan setiap detik pertemuan kita. Memperbaiki hari-hari yang tidak teratur. Dan kembali menjadi manusia pemimpi. Sampai pertemuan terakhir kita. Aku sudah mencoba melupakanmu. Bersikap biasa di depanmu. Tapi, aku memang bukan orang yang bisa menutupi perasaanku. Aku adalah artis yang gagal. Dan tiba-tiba kau mengatakan padaku bahwa kau tak lagi memiliki hubungan dengan gadis itu. Aku tak tahu perasaanku waktu itu. Entah senang atau sedih. Tapi, aku benci mengakui kalau aku mulai bermimpi bahwa kamu mau menjadi orang yang menerima setengah hatiku.

Mr Coolness,

I don’t know which ones are good and bad. But, I already love my new life. I don’t deny that I still loving you. But, let it be there in half of my heart. And I hope you find the girl you are looking for.

Sincerely,

RH

Ps: I Miss You