Category Archives: Education

Catatan Calon Guru

Jika kau berjalan-jalan dan terhenti di rumahku, janganlah mampir bila kau bukan seorang guru. Karena kau tahu, semua anggota keluargaku adalah seorang guru. Aku tak tahu apa ini sebuah kebetulan atau tidak. Namun dari semua anggota keluargaku, hanya aku yang masih harus menentukan mau jadi apa. Kakak pertama dan keduaku adalah seorang guru dan keduanya dipertemukan dengan seorang guru pula. Dan tentunya kedua orang tuaku adalah seorang guru. Jadi kusarankan bila ingin mampir ke rumahku, kau harus menjadi seorang guru.

Good teachers know how to bring out the best in students.”¬†Begitu yang dikatakan¬†Charles Kuralt. Lalu aku berpikir bisa apa aku pada muridku nanti ketika aku telah memutuskan untuk menjadi seorang guru. Apa yang dapat kuberikan pada mereka? Aku tentu tak mau memberi racun pada mereka. Begitulah semua pikiran-pikiran itu terus saja berputar-putar dalam otakku. Ketika aku berpikir, aku menuliskannya. Jadilah ini sebuah catatan seorang calon guru yang ingin memberikan harapan pada murid-muridnya kelak.

Cerita Anak Kecil

Hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 8 Januari 2014, aku mulai mengajar anak-anak SD kelas 3. Banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa ku peroleh dari mengajar anak SD kemarin. Salah satunya adalah anak-anak itu suka bercerita dan berkhayal. Ketika mereka bercerita usahakan untuk memperhatikan mereka baik-baik dan menanggapi dengan serius (seserius yang ada bisa).

Kemarin aku mendapat banyak kisah dari mereka. Salah satunya kisah tentang Coboy Junior. Ya, Coboy Junior. Boyband yang katanya memutuskan untuk bubar dan mengadakan konser perpisahan dengan mereka. Tapi, aku menduga bahwa mereka tidak akan membubarkan boyband itu, mungkin hanya berganti nama saja. Ah, saya melantur sekali. Salah seorang anak bernama Aliza bercerita padaku, kira-kira seperti ini:

“Bu Guru. Bu Guru. Masa’ temenku yang namanya Dena itu suka sama Coboy Junior, Bu Guru.” katanya

“Oh. Terus?” jawabku

“Iya, Bu Guru.” tanggapnya tanpa memperhatikan jawabanku “Dia suka sama Iqbaal, Bu Guru. Terus….” dia berhenti melihat reaksiku

“Dia manggil Iqbaal dengan sebutan…” dia memberi jeda sedikit panjang

“S-sayang.” katanya dengan mesra

Aku tak mampu berkata-kata. Apa anak SD kelas 3 sudah mencapai tahap seperti itu? Aku hanya mampu menanggapi. “Ha? Ya udah kamu belajar lagi ya.”

Dan dengan tanggapan seperti itu, selama satu setengah jam kemudian aku tidak diacuhkan oleh Aliza. Aku hanya bisa bicara dan dia tidak menanggapi aku lagi. Satu setengah jam kemudian aku cuma berpikir apakah aku salah? Apa harusnya dialogku dengan dia harus seperti ini:

“Bu Guru. Bu Guru. Masa’ temenku yang namanya Dena itu suka sama Coboy Junior, Bu Guru.” katanya

“Ha? Yang bener? Coboy Junior yang mau bubar itu? Dena suka sama mereka?” jawabku

“Iya, Bu guru.” tanggapnya “Dia suka sama Iqbaal, Bu Guru. Terus….” dia berhenti melihat reaksiku

“Dia manggil Iqbaal dengan sebutan…” dia memberi jeda sedikit panjang

“S-sayang.” katanya dengan mesra

“Ha? Ciyus? Mi apah?”

Apa dialogku harus seperti itu agar aku diacuhkan olehnya? Mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, hari itu aku mendapat pelajaran (menurutku) bahwa ketika anak-anak bercerita usahakan untuk memperhatikan mereka baik-baik dan menanggapi dengan serius. Karena sepertinya mereka suka dianggap sebagai orang dewasa. Dan saya harus belajar dengan baik dan menjadi guru yang baik pula. Sehingga apa yang diceritakan anak-anak pada saya nantinya adalah cerita-cerita yang baik.