Sembilan Belas

Sembilan belas tahun yang lalu, tangisan lirih disuarakan oleh seorang anak yang sangat lemah. Ia menangis, meminta perhatian seluruh orang di rumah sakit. Ia mengiba, memohon orang-orang untuk menggendongnya. Sang suami memandang bayi yang ada di depannya. Menimang-nimang akan dinamai siapa bayi itu. Sang istri yang masih lelah meminta sang suami untuk menamainya Roosyidah Haniifah. Sembilan belas tahun dari hari ini, istri dan suami itu mengharapkan agar bayi yang digendongnya akan menjadi seorang pahlawan suatu saat nanti.

Ya, aku. Aku yang sering menyebalkan. Aku yang sering mengomel. Dan aku yang sering merepotkan orang lain ini diharapkan untuk menjadi pahlawan. Pada akhirnya sekarang aku dalam proses menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, sekali lagi. Untukku. Selamat menjadi tua. Semangatlah untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s